ALEPPO BERDARAH! Media Barat dan Radikal Tutupi Tragedi Pembantaian Keji di Suriah

`

Serangan mortir, roket, dan bom gas Hell Cannon milik para teroris terus menghujani Aleppo selama beberapa hari terakhir. Hal ini merupakan peningkatan dramatis dari terorisme sporadis tetapi sering, yang dihadapi warga Aleppo selama bertahun-tahun.

Terhitung sejak 23 April, 1000 roket/rudal/hell canon milik para teroris telah melanda Aleppo. Laporan jurnalis al-Alam, Rabea Kalawandy pada 27 April saja menunjukkan korban tewas sedikitnya 40 warga dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka. Diantaranya adalah Abdurrahman, pemuda asal Aleppo yang tewas akibat serangan roket teroris saat berjalan pulang dari sekolahnya pada 25 April lalu. (Baca juga: HOAX! Foto Palsu Madaya Propaganda Saudi dan Barat Untuk Jatuhkan Assad)

Abdurrahman
Jumlah korban tewas terus bertambah terutama dengan banyaknya diantara mereka yang mengalami luka-luka berada dalam kondisi kritis.

Al-Masdar News melaporkan bahwa pada tanggal 26 April saja, 6 warga sipil tewas, dan 25 lainnya mengalami luka-luka saat para teroris menembakkan rentetan mortir dan rudal homegrown ke distrik Ashrafiyah, Nil Street, Mokambo dan Al-Khalidiyah, di utara kota Aleppo.

Selain itu, dalam sebuah video yang dipublikasikan oleh Anna News, warga Aleppo mengungkap penderitaan mereka sehari-hari terhadap penembakan yang terus-menerus dilakukan para pemberontak yang telah memakan banyak nyawa dan melakukan kerusakan besar di Aleppo. (Baca juga: Media Barat Banjiri Suriah Dengan Berita Hoax)

Seorang warga Aleppo dalam video tersebut menuturkan bagaimana ia telah kehilangan dua putranya dalam satu bulan, ia bahkan juga harus kehilangan tangan dan lengannya akibat penembakan teroris ‘di lingkungannya tersebut.

MEDIA BARAT TUTUPI TRAGEDI BERDARAH ALEPPO

Dalam propaganda 27 April, BBC dalam artikelnya, ketika akhirnya sampai ke masalah Aleppo, tidak mengatakan apa-apa tentang situasi yang terjadi saat ini di Aleppo, dan untuk beberapa alasan, merasa perlu untuk menggunakan tanda kutip ketika menulis kata teroris (ISIS dan front al-Nusra).

“Rusia tentu saja menyatakan bahwa pihaknya telah menargetkan “teroris” ISIS dan al-Nusra,” demikian tertulis dalam berita BBC.

Memang, artikel itu dimaksudkan khusus untuk menjadi propaganda anti-Rusia terkait Aleppo, tapi, artikel itu tidak menyebut apapun mengenai pemboman yang dilakukan oleh front al-Nusra yang mengerikan, serta tindakan biadab lain yang dilakukan para teroris di wilayah pemukiman Aleppo ini dalam beberapa hari terakhir. (Baca juga: SUARA DARI ALEPPO, “Hentikan Semua Kebohongan Itu!”)

BBC justru memasang foto-foto tak bertanggal dari Aleppo yang menunjukkan adanya serangan udara. Sebuah foto yang menggambarkan dua laki-laki besar dengan penampilan seperti anggota front al-Nusra atau teroris lainnya dimana salah satunya mengenakan seragam militer, suatu kebetulan yang tak lazim.

foto BBC
Jika anda mencari dengan kata kunci Aleppo di website BBC, tak heran jika anda tidak akan menemukan artikel apapun (kecuali menyoal propaganda anti Rusia) mengenai serangan teroris di Aleppo dalam beberapa hari terakhir.

The Guardian menggunakan foto yang sama di 26 April itu oleh penulis yang berbasis di Turki, kali ini dengan keterangan foto: “Seorang anak yang terluka dibantu keluar dari bangunan yang hancur setelah serangan udara di lingkungan Fardous di Aleppo.”

The Guardian foto Aleppo

The Guardian menghilangkan fakta bahwa Fardous dikuasai oleh teroris. Jika saja the Guardian melakukan pencarian mengenai sang fotografer, Ameer al-Halabi, mereka akan menemukan foto semacam itu yang menunjukkan kedekatan fotografer yang sama dengan para teroris bersenjata.

WH
Fotografer yang sama pada bulan Februari 2016 mengunggah foto dengan tema “White Helmets” “para penyelamat “di Aleppo.

Alih-alih menjadi penyelamat “warga sipil”, White Helmet adalah kelompok yang di danai asing penuntut perubahan rezim, propagandis dan sekutu teroris, yang beroperasi terutama di benteng-benteng front al-Nusra dan ISIS, seperti yang dijelaskan secara rinci dalam investigasi seorang penulis, Vanessa Beeley berjudul, “Syria’s White Helmets: War by Way of Deception” (Helm Putih Suriah: Perang Tipu Daya)” dan “Syria’s White Helmets: War By Way of Deception~Moderate Executioners’“(Helm Putih Suriah: Perang Tipu Daya ~ algojo Moderat). (Baca juga: Makar Amerika, Media Arab dan Barat Atas Perang Yaman)

Artikel the Guardian juga penuh pengaburan standar Mainstream Media, dan tidak menyoroti krisis pemboman yang dilakukan para teroris di Aleppo. Sebaliknya media itu melakukan retorika penuduhan seperti biasanya, berduka untuk “Pertahanan Sipil” alias “White Helmets” alias pendukung teroris dan propagandis.

Bahkan, BBC, Guardian, AFP, CBC, dan lain-lain, semua menulis mengenai naskah kebohongan yang serupa: berpura-pura bahwa WH adalah pekerja penyelamat, mencerca tentara/angkatan udara/pemerintah Suriah, dan benar-benar mengabaikan atau mengecilkan tragedi besar dari sebuah pembantaian terus menerus yang dilakukan oleh para teroris dukungan barat. Tak satu pun dari apa yang terjadi ini mengejutkan, tapi jelas itu menyebalkan. Menyebalkan karena tidak adanya rasa hormat terhadap kenyataan atas berjatuhannya korban jiwa dari rakyat sipil akibat tindakan teroris di Suriah; kartu kemanusiaan yang dimainkan dan dimanipulasi hanya untuk melayani retorika lama penjahat NATO dan aliansinya.

Bagaimanapun, menurut analis politik Suriah dan penulis lepas, Kevork Almassian, mencatat perkembangan menggembirakan bahwa Rumah Sakit Khusus Suriah di Aleppo menyatakan akan merawat warga sipil yang terluka oleh teroris dukungan Turki dan Barat dengan gratis.

noted

Media-media radikal Indonesia salah satunya ‘Arrahmah .com’ sejak konflik suriah menyala, secara ofensif mendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah. Maka, perlu dipertanyakan ketika mereka mengatakan “White Helm ‘Helm Putih’” sebagai pahlawan tanpa senjata. Karena yang dimaksud jelas bukan relawan pemerintah atau pastinya teroris dibalik jubah relawan.

Media-media Radikal Indonesia acap kali mengambil berita dari salah satu media Arab yang menurunkan berita-berita sesuai dengan pesanan Saudi dan barat seperti Al-Jazeera, Al-Arabiyah, bahkan salah satu ulama Suriah, Taufik Al Buthi mengatakan bahwa Al Jazeera dan Al-Arabiyah adalah media yang sebabkan kekacauan di Suriah.

Disarikan ulang oleh: Eki Hadiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *