Anak Kecil itu adalah Guruku (serial cuplikan buku KHM)

Anak kecil itu adalah guruku

“kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.S Al Imron : 92)

Ayat ini berbicara tentang bagaimana cara meraih kecintaan Allah SWT terhadap hamba-Nya, berbicara tentang pilihan antara materi duniawi atau kenikmatan ukhrowi. Tidak mudah memang jika seseorang diperintahkan untuk mengorbankan sesuatu yang sangat ia cintai terlebih lagi jika balasan dari apa yang ia korbankan masih bersifat ghoib, tidak akan ada yang mampu melakukannya kecuali Iman yang menjadi faktor utama seseorang mau melaksanakan hal tersebut.

Tanpa iman yang tertancap dalam, pemahaman yang benar, keikhlasan dalam beribadah, kejujuran dalam bersyahadah maka pengorbanan tak akan mampu terlaksana, Mengapa ? karena jiwanya masih terbelenggu dengan syahwat dan kecintaan terhadap dunia.

Suatu hari ada seorang lelaki bercerita tentang sebuah pengalamannya, ia berkata: tak tahan air mataku menetes..sesudah Jum’atan aku masih duduk di teras masjid di salah satu komplek sekolah. Jama’ah sudah mulai sepi, mereka bubar untuk kembali dengan kesibukannya masing-masing. Terlihat di sudut masjid seorang nenek yang sedang menawarkan dagangannya, ia menjual kue-kue tradisional, satu plastik ia jual dengan harga lima ribu rupiah. Lelaki ini kemudian membelinya satu kantong, walau sebenarnya ia tidak minat untuk membelinya, namun rasa kasihanlah yang menggerakkan hatinya untuk membeli apa yang nenek itu jual.

Si nenek penjual kue itu terlihat sangat letih dan duduk di teras masjid yang tak jauh dariku, aku melihat dagangannya masih banyak yang belum terjual. Tak lama kemudian aku melihat seorang anak keluar dari komplek sekolah menghampiri si nenek penjual kue tersebut, anak itu kuduga murid kelas satu atau dua (sekolah dasar). Dialognya dengan seorang nenek kudengar begitu jelas karena memang aku tak jauh duduk dari tempat si nenek penjual itu.

Anak itu berkata: berapa harga kuenya nek? Satu plastik kue lima ribu, nak” jawab si nenek. Anak kecil itupun…………………………………

 

 

to be continue

buku: Ketika Hidayah Menyapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *